Umum

Menjadi Kadaver

Kadaver atau cadaver adalah jasad manusia yang diawetkan untuk digunakan dalam pembelajaran anatomi tubuh di Fakultas Kedokteran. Banyak terlahir sosok dokter dan profesor berkat adanya kadaver. Mereka bisa lebih mengenal bentuk anatomi tubuh manusia secara detail dari kadaver. Kadaver lah yang mengajarkan mereka dalam kebisuan. Kadaver lah guru besar mereka.

Beberapa tahun lalu, berawal dari sosok seorang dosen UGM yang mendedikasikan jasadnya untuk menjadi kadaver FK UGM, aku menjadi terinspirasi mengikuti beliau. Aku ingin, di akhir hidupku, tak hanya tenaga dan pikiran ku saja yang berguna. Namun, jasad yang menjadi satu-satunya hal yang ku miliki juga berguna bagi orang lain. Walaupun sesungguhnya, bukan milikku sepenuhnya.

Menjadi kadaver, tubuhku berguna untuk orang lain pelajari. Agar mereka menjadi dokter yang handal dan teliti ketika berhadapan dengan pasien nantinya. Tapi di sisi lain, aku pun sendiri belum sepenuhnya menjadi seperti yang ku tulis. Tenaga dan pikiran ku untuk dapat memberikan manfaat pada orang lain, akan tetapi rasa keikhlasan belum sepenuhnya menjiwai ku. Kadang aku masih suka mengeluh.

 

Umum

I Wanna Be A Cadaver

Ada alasan kenapa aku pengen banget jadi kadaver. Selain bermanfaat bagi orang lain ketika jiwaku pergi, setidaknya mungkin aku ga merepotkan orang lain. Menjadi cadaver cukup kirimkan aku ke laboratorium. Orang-orang tak perlu repot dengan pemakaman ku. Hidupku sudah cukup merepotkan. Aku gatau, menjadi kadaver diperbolehkan atau tidak. Yang jelas, di sisa harta yang ku punya ini ragaku bisa bermanfaat.

Hidup ku terbiasa untuk tidak merepotkan orang lain. Itulah kenapa aku ingin menjadi kadaver agar diakhir hidupku juga tidak merepotkan orang lain. Biar mereka bisa mempelajari tubuh manusia dengan baik, kelak mereka akan menjadi dokter yang ahli.

Umum

Versi Terbaik dari Diriku

Selamat pagi menjelang siang….

Beberapa waktu lalu aku membaca sebuah tweet, kalau kita harus punya versi terbaik dari diri kita sendiri. Apapun itu tanpa harus judge orang lain. Aku akan menuliskan tentang diriku terlebih dahulu, terutama tentang apa yang sering aku pikirkan akan hidup ini.

Aku anak pertama dari dua bersaudara. Punya seorang adik laki-laki yang sudah lulus SMK di tahun 2020. Aku yang saat ini sedang kuliah semester 11, harus bisa menyelesaikannya pula di tahun ini. Kurang lebih udah 5 tahun kuliah. Lalu, aku ngapain aja di kampus selama itu?

Aku pernah berada pada krisis kepercayaan diri, bukan pada diri sendiri bahkan pada orang lain yang menyebabkan aku merasa sendiri di dunia ini. Selama kuliah ini, aku beberapa kali keluar masuk UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) kampus. Mulai dari UKM tingkat program studi, jurusan, sampe tingkat universitas. Jujur aja, aku merasa minder masuk UKM kampus. Ya Allah, kayaknya aku ini ga punya apa-apa yang bisa dibanggain. Prestasi apa yang dipunya juga ga punya samsek. UKM yang pernah ku ikuti diantaranya ALMAFIKA, HIMASAKTA, BEM FKIP UNILA, dan juga SAINTEK.

Akhirnya, di tahun 2017 aku memutuskan untuk ikut komunitas di luar kampus. Komunitas pertama yang aku ikuti, KPGJL (Komunitas Peduli Gangguan Jiwa) yang pada suatu waktu tanpa disadari ternyata aku ada masalah dengan mental illnes ku. Kemudian, aku ikut komunitas baca Lampung Ngopi yang founder nya dari UIN RIL. Dari komunitas baca ini, lumayan banyak aku bertemu orang-orang yang tetap bertahan meski gak begitu banyak peminatnya .Tahun 2018, aku ikut komunitas Sahabat Pulau Lampung yang memberikan ku banyak pengalaman berharga bagi diriku. Keihklasan dan kesabaran dalam menjadi relawan, membuatku harus banyak bersyukur dengan apa yang ku miliki.

Tahun berikutnya, Agustus 2019 aku mengerjakan sebuah proyek bidang pendidikan yang dilaksanakan di SDN 3 Kotakarang P. Pasaran. Aku menjadi Project Officer program kegiatan Edu Sport Warrior. Kegiatan yang hampir setiap hari aku ketemu sama adek-adeknya. Banyak suka dan dukanya selama kegiatan. Sukanya ya bisa main sama mereka sambil menghibur diri, dukanya ya kadang mereka susah diajak untuk bisa kegiatan bareng. Mungkin itu sebuah tantangan dalam menjalani sebuah program.

Kegiatan ini aku mendapatkan fee yang lumayan cukup banyak untuk seorang mahasiswi speertiku. Cukup untuk biaya hidup walau terkadang kurang karena habis di ongkos perjalanan ke sana. Mau bagaimana lagi. Tapi, aku cukup bangga dengan diriku. Aku bangga dengan diriku karena di saat kondisi psikologis ku yang kacau, aku masih bisa menyelesaikan proyek itu. Itu adalah versi terbaik menurut diriku. Aku yang harus bisa menahan segala rasa yang aku sendiri ga tau mau gimana, aku mampu melewatinya. Dukungan orang-orang tersayang membuat ku memilki kekuatan dalam menjalaninya.

Saat ini aku memulai lagi untuk menyelesaikan tanggung jawab ku menyelesaikan kuliah. Aku sekarang enggak pusing lagi akan komentar orang yang sering menanyakan kapan lulus kuliah. Aku hanya bisa memaklumi mereka, sebab mereka enggak tau sama sekali apa yang telah aku lewati. Terima kasih diriku, kamu mampu bertahan hingga saat ini. Kamu adalah terbaik versi dirimu, bukan orang lain. Standar mu dengan orang lain berbeda, maka buatlah standar versi dirimu meskipun mungkin kamu tak secepat mereka. Hidup bukan hanya tentang persaingan, akan tetapi bagaimana dirimu menjalani kehidupan yang bermakna. Jadilah insan yang adil dengan alam, karena sesungguhnya alam telah memberikan energinya untuk mu menjalani kehidupan.

Cerpen, Opini, Umum

Rangkul Aku

pita hiv
Sumber gambar : www.shutterstock.com

Apa yang kamu rasakan ketika pertama kali tahu bahwa kamu adalah seorang ODHIV? Kaget? Sedih? Atau malah justru lemas gak tahu harus berbuat apa? Yaps, semuanya itu justru aku rasain tatkala aku tahu bahwa ada makhluk mikroorganisme bersemayam dalam tubuh ku dan itu seumur hidup. S-E-U-M-U-R H-I-D-U-P!!! Bahkan aku gak tau harus berbuat apa dengan sahabat “baru” ku ini.

Belum lagi kalau harus menghadapi tekanan sosial soal penyakit kutukan ini. Serasa dunia kiamat. Ya, bagiku ini kiamat. Cita-cita yang selama ini aku impikan, rasanya pupus sudah semuanya. Dunia sudah berakhir. Aku belum siap menerima kenyataan ini. Aku belum bisa terima dengan semua ini. Pada akhirnya, hanya ada penyesalan yang datang. Menyesal dengan hal sebelumnya yang pernah aku lakukan dan hanya ada seandainya…

Aku tahu, ini teguran Tuhan padaku. Aku terlalu asik dengan dunia ku. Aku melupakan Tuhan, keluarga ku, dan juga orang-orang yang menyayangiku. Aku melupakan semuanya. Entahlah, masih adakah harapan lainnya yang masih bisa ku raih? Aku tak tahu. Aku hanya berharap, semesta masih mau merangkul ku dalam kesendirian ku ini.

Saat ini, aku masih menatap kertas hasil VCT ku yang keluar beberapa menit yang lalu. Bahkan, perkataan dokter yang mendampingiku, serasa tak lagi terdengar oleh telingaku. Aku masih tenggelam dalam rasa kesedihan ku. Walau ku tahu, aku harus menerima kenyataan ini. Pahit memang, tapi mau bagaimana lagi. Setelah ini, aku harus lebih memperhatikan kondisi kesehatanku. Setidaknya, aku masih lebih beruntung dari teman-teman senasibku yang lain. Aku lebih tahu dulu sehingga penangananku tidak terlambat. Aku juga harus mematuhi saran dan nasihat dokter jika aku ingin hidup lebih lama lagi. Ya, maut memang di tangan Tuhan. Setidaknya sebagai manusia, aku tak ingin lebih lancang lagi.

Aku akan menebusnya. Entahlah, Tuhan menerima penebusan dosaku atau tidak. Aku hanya ingin melakukannya. Kondisi CD4 ku saat ini masih bisa dikatakan diambang normal. Dokter pun menyarankan aku untuk segera minum beberapa obat “penambah umur” yang harus aku minum tepat waktu. Selain itu juga, serangkaian terapi lainnya juga harus ku patuhi.

Aku harus bangkit. Aku tak boleh berlama-lama larut dalam kesedihan ku. Jalan ku masih panjang ketimbang larut dalam kesedihan. Keinginan dan cita-cita lainnya masih ada yang belum aku wujudkan.

Tentang stigma yang mungkin nanti aku terima, anggap saja mereka tidak tahu. Kewajiban ku, memberi tahu mereka supaya mereka tidak menjauhi orang-orang di luar sana yang senasib denganku. Aku masih sama dengan kalian. Aku masih bisa beraktivitas normal seperti kalian. Hanya saja, kondisi kesehatan yang berbeda. Tubuhku memang mulai rentan dengan adanya “makhluk-makhluk mikroorganisame” lainnya. Tapi, kalau aku boleh protes. Aku ingin mengatakan, kami tak ubahnya dengan orang lainnya yang sakit dalam pengobatan. Mungkin sangat sedikit peluang untuk bisa“makhluk” itu benar-benar hilang. Pesanku pada kalian bila bertemu teman-teman ku lainnya, “Jauhi penyakitnya, bukan orangnya”.

Note : Tulisan ini aku buat atas dasar rasa prihatin terhadap banyaknya orang yang memperlakukan ODHIV seperti makhluk terkutuk.

Umum

Output Filsafat 

Sering saya katakan bahwa kita ini janganlah asal berfilsafat. Dan ada orang yang menyanggah, katanya “tidak ada orang yang asal berfilsafat, jika asal, maka itu berarti dia tidak berfilsafat.” Dia berargumen pakai jurus “Kucing Hitam”, yakni seperti orang yang berkata, “Semua kucing berbulu hitam. tidak ada kucing berbulu putih. Jika berbulu putih, maka bukan kucing.” Sah-sah saja menggunakan argumen demikian, tetapi tidaksah untuk digunakan sebagai kontradiksi dari filsafat saya tentang “asal berfilsafat”, karena adanya perbedaan struktur klasifikasi dan definisi.

Saya seorang programmer, sehingga sering membandingkan antara filsafat dengan project pemrograman. Dalam mengerjakan sebuah project pemrograman, hal pertama-tama yang harus saya cari tahu adalah “output yang dikehendaki oleh user”. Output program adalah tujuan program. Setelah itu baru menyusun startegi untuk mencapai tujuan program tersebut. Demikian pula dalam berfilsafat, saya memprogram diri saya sendiri. Pertama-tama saya menentukan dulu output yang saya kehendaki dari suatu filsafat itu seperti apa ? Setelah jelas output yang dikehendaki, barulah menyusun struktur filsafat untuk mencapainya. Lain dengan ketika saya masih usia belasan dulu, saya senang membaca buku-buku filsafat hanya karena terdorong oleh rasa ingin tahu saja. Karena itu saya belajar tentang apapun, dan membaca buku filsafat apapun.

Dulu saya berpendapat bahwa yang namanya informasi, sekecil apapun itu sangatlah berharga. Karena itu saya membaca dan mempelajari apapun yang menurut saya menarik. Sampai suatu ketika, saya menemukan buku kecil yang berisi nasihat panjang Sayyidina Ali bin Abi Thalib kepada sayyidina Hasan dan Husein. Buku tua dan kumal, dengan teks tulisan tempo doeloe, diterbitkan sebelum Indonesia merdeka. Saya memaca isi buku tersebut. Saya satu nasihat Sayyidina Ali kepada kedua putranya, beliau berkata, “Wahai putraku, tidak ada gunanya kita mengingati hal-hal yang tidak penting.” Kalimat ini seakan menusuk sekali ke dalam hati saya, seolah itu ditujukan kepada saya. Karena selama ini saya mempunyai kebiasaan mengingati hal-hal yang menurut orang-orang lain tidak penting. Misalnya, saat saya berkunjung ke rumah teman dan diminat untuk menunggu di teras rumah, maka saya mengisi waktu untuk mencari informasi-informasi baru. Bila ada koran, saya membaca koran. Tapi apabila tidak menemukan koran, saya akan melakukan hal-hal seperti menghitung jumlah keramik lantai, menghitung jumlah pagar, jumlah pohon, menghafal nomor rumah, atau menghafal nomor polisi dari kendaraan yang terparkir di halaman. Hal itu saya lakukan karena tidak suka membiarkan waktu kosong tanpa mendapatkan satu informasi baru.

Sebulan kemudian, saya berjumpa lagi dengan kawan saya di tempat lain. saya bertanya, “Ada berapakah jumlah batang pagar besi yang ada di rumahmu ?”

Si teman tersenyum dan menjawab, “Tidak tahu”.

“Ada 80 batang, itu sudah termasuk batang pada pagar pintu.” saya menjelaskan.

“Lho.. apa kamu menghitungnya ?” tanya teman heran.”

Ya.. saya menghitung dan mengingatnya.”

“Ha..ha.. untuk apa menghitung batang pagar rumah saya ? iseng banget sih kamu.” kata teman sambil tertawa.

“Waktu itu kamu di dalam ngapain, aku kok disuruh nunggu di teras lama banget. dari pada aku bosen, lebih baik aku mencri informasi-informasi kecil, contohnya mencari tahu jumlah batang pagar. dari pada saya begong aja.” saya menjelaskan.

Saya tidak peduli, apakah mengetahui jumlah batang pagar tersebut diketahui manfaatnya atau tidak oleh saya, tapi saya meyakini bahwa sekecil apapun informasi itu adalah berharga. Dan kadang saya merasakan manfaatnya. Seperti suatu hari para guru berdebat di ruang dapur sekolah tentang jumlah gelas. Sebagian guru bersikukuh bahwa jumlah gelas ada 20, sedangkan lainnya bersikukuh bahwa jumlah gelas hanyalah 19. Kadang ibu-ibu itu, masalah sepele juga jadi debat sengit. Sampai mereka memanggil pembantu sekolah yang sehari-harinya mengurusi dapur. Tapi pembantu sekolah juga tidak yakin, berapa jumlah gelas yang seharusnya ada. Dia tidak pernah menghitungnya. Ketika saya mendapati mereka berdebat, saya langsung menjelaskan dengan yakin, “ibu-ibu, jumlah gelas sudah saya hitung sejak dua minggu yang lalu, semua ada 22 gelas. gelas yang kecil semuanya 20, dan gelas yang besar 2. tapi minggu lalu pecah satu, jadi semuanya sekarang tinggal 21 gelas. Ini gelas kecil di sini ada 19 dan gelas besar di sana ada 2.” Teman-teman heran, kok saya bisa tahu jumlah gelas dengan yakin. Pembantu sekolah yang ngurus dapur aja gak yakin dengan jumlahnya. Saya menjelaskan kepada salah seorang kawan saya di sekolah itu, bahwa saya tidak suka melamun. Jadi, pada saat duduk sendirin di dapur di waktu jam istirahat sekolah, saya menghitung apapun yang bisa saya hitung jumlahnya.

Kebiasaan saya menyelidiki hal-hal kecil seperti contoh kasus di atas, berlangsung cukup lama, mulai dari tahun 1999 hingga tahun 2005. Sampai saya mendapati buku yang berisi nasihat Sayyidina Ali itu. Isinya panjang lebar. saya tidak dapat mengingat seluruh isi nasihatnya. Namun kesimpulan dari nasihat itu adalah banyak hal berguna yang mesti kita ingat-ingat. Tidak semestinya kita mengingati hal-hal yang kurang berguna dalam hidup ini. Akhirnya saya mencoba mengubah kebiasaan saya, menggantinya dengan mengingati hal-hal yang lebih bermanfaat. Saat duduk sendirian ketika menunggu antrian di Bank, misalnya, saya akan mengingati pelajaran dari ilmu Logika, dan kadang saya selesai mengingatinya hingga satu bab.

Selain karena membaca nasihat Sayyidina Ali bin Abi Thalib, seorang sahabat saya juga memberi nasihat, bahwa kita tidak harus mempelajari segala hal.

Dia berkata, “Kita harus pilih,.. kita ini mau jadi apa ? mau jadi kyai, mau jadi mubaligh, jadi jurnalis, jadi akuntan, pengacara atau pengusaha ? Lalu kita pelajari ilmu yang sesuai dengan cita-cita. Jangan cita-cita mau jadi dokter, yang dibaca buku-buku politik. jangan waktu kuliah digodok untuk jadi calon guru, tapi tidak berminat bekerja sebagi guru.”

Nasihat teman saya itu mengena banget, mengingat saya itu belajarnya asal belajar, gak jelas arah tujuannya. Hanya terdorong oleh ketertarikan perasaan hati saja. Ternyata teman saya itu, fokus pada cita-citanya dan belajarnya terarah sesuai dengan visinya.

Kejadian lain yang membut saya semakin sadar ketika melihat teman-teman sekantor saya bekerja menggunakan aplikasi autocad. Saya ingat, dulu saya pernah belajar menggunakan autocad. Sudah cukup terampil dalam rancang bangun 3D. Bukan hanya itu, saya juga belajar tentang bagaimana menyusun RAB sebuah project properti. Tapi sekarang, karena begitu lama ilmu tersebut tidak digunakan, semuanya seakan lupa. Benar-benar lupa. Sia-sialah saya mempelajari semua itu. Lalu saya ingat kepada nasihat imam Jakfar Shadiq, “Carilah ilmu yang bisa kamu praktikan.” Saya akan menyesali diri, karena cara belajr saya tidak fokus. Pokoknya asal sebuah buku terasa menarik dan menawan hati, lalu saya baca, saya pelajari. Ternyata itu cara yang keliru.

Ketika usia semakin tua, saya semakin sadar bahwa waktu kita begitu sempit. Tidak ada banyak waktu bagi kita untuk kita asal belajar. Sisa waktu kita yang sedikit, harus kita gunakan sefektif mungkin. Dalam belajar, kita harus pilih-pilih. Jangan semua kita “telan”. Hidup itu memang mengalir bagaikan air. Tapi manusia dapat berpikir secara terstruktur, terorganisir dan sistematis. Itulah cara mengalirnya hidup manusia.

Sekarang, saya melihat masih banyak orang yang seperti saya dulu, belajar dengan asal belajar, yang penting pintar. Berfilsafat juga asal berfilsafat, tanpa jelas arah tujuannya. Tabiat yang telah lama saya tinggalkan. Filsafat harus berfungsi sebagai solusi dari suatu masalah. Misalnya, ada orang yang pintar dalam bidang ilmu matematika. Banyak masalah yang dapat dia selesaikan dengan ilmu tersebut. Namun dia punya masalah psikologis yang disebut dengan Prokastinasi, yaitu mental negatif yang membuat dia sering menunda-nunda pekerjaan. Di media sosial, dia sangat aktif diskusi seputar filsafat dan matematika. Suatu hari saya katakan kepadanya, “Walaupun kamu banyak berfilsafat, tapi kalau sampai saat ini masih saja kamu ini terbelenggu oleh kemalasan, itu berarti masih ada yang salah dalam filasfat mu.”

Itu artinya, kita perlu melihat hasil filsafat itu dari outputnya. Lihat hidup kita ini. Bisa masih tidak disiplin, kurang peduli pada lingkungan, malas, menunda-nunda pekerjaan, banyak takut, sedih, gelisah, menjadi kacau oleh karena sikap orang lain, terbang ketika dipuji dan terpuruk ketika dihina, itu berarti “masih ada yang salah dalam filsafat kita.”

Sebagai manusia, kita memang tidaklah sempurna. Selalu ada kelemahan. Itu berarti sudah pasti ada yang salah dalam filsafat kita. Tapi dengan berfilsafat itu kita terus berkembang untuk menyempurnakan diri kita. Hari ini mesti lebih baik dari kemarin. dan esok mesti lebih baik dari sekarang. itulah kemajuan hidup. Kita tidak dapat menjadi ahli dalam segala bidang, kita tidak dapat menyempurnakan seluruh aspek kehidupan kita, apalagi dalam waktu serentak. Kita tidak harus mengoreksi setiap kesalahan dalam filsafat kita. Karena umur kita tidak akan cukup untuk itu. Yang benar, kita harus menentukan output dari filsafat kita satu persatu. Bila output sudah tercapai, berarti filsafat sudah benar, sudah bebas dari kontradiksi. Setelah itu, kita dapat beralih kepada target output lainnya.

Jadi, sekarang ini output seperti yang ingin dihasilkan dari filsafat Anda ?

Tulisan ini oleh Kang Asep pada diskusi grup telegram Logika Filsafat

Edisi : 04 Nopember 2018, 02:38:55

Opini, Umum

Potret Pendidikan Negriku

Akhir-akhir ini kita sering melihat ataupun membaca terkait dengan kekerasan dalam dunia pendidikan, baik dalam media online maupun offline. Entah guru yang melakukan ataupun siswanya, bahkan tak jarang pula orang tua ikut pula dalam tindakan tersebut. Meskipun demikian, tidak serta merta mereka yang melakukannya tanpa sebab.

Kasus penganiayaan ini pernah terjadi di Sulawesi Utara pada Agustus 2016, dimana seorang guru arsitek bernama Dasrul dianiaya oleh siswanya sendiri yang berinisial MAS lantaran tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Tak hanya sampai di situ, orang tuanya pun turut serta dalam membela anaknya dengan melakukan hal yang sama hingga melukai bagian dahi dan hidung sang guru. Peristiwa ini pun berlanjut hingga proses hukum. Keduanya ditetapkan tersangka oleh Polsek Tamalate Makassar. Namun sekarang, sang guru telah kembali kepangkuan yang Maha Kuasa karena mengalami kecelakaan.[1]

Kasus lainnya di bulan Desember 2017, seorang guru kesenian dari Trojun, Madura bernama Budi mengalami hal yang sama lantaran siswa yang diajarnya tidur saat pelajaran tengah berlangsung. Sang guru pun mendekati siswa dan menegurnya dengan cara mencoret bagian pipinya menggunakan tinta. Tak terima atas perlakuan gurunya, siswa itu pun melakukan tindakan pemukulan di bagian pelipis wajah dan sang guru pun mengalah. Tidak hanya sampai di situ, usai jam sekolah berakhir, siswa berinisial HI pun menunggu Budi di Jalan Raya Jrengik dan kembali menganiaya sang guru. Kini sang guru pun telah kembali ke pangkauan yang Maha Kuasa setelah dokter memvonis guru Budi mengalami mati batang otak.[2]

Kasus lainnya juga terjadi di Purwokerto, seorang guru yang menampar siswa berinisial L lantaran siswa tersebut tidak datang tepat waktu saat jam pelajaran dimulai. Selain disebabkan hal itu, siswa tersebut sudah berulang kali melakukan kesalahan seperti tidak mengerjakan tugas, sering bolos, dan puncak kemarahan guru tersebut ketika datang terlambat ke kelas. Sang guru sudah berada di dalam kelas, namun siswa tersebut belum memasuki ruang kelas. Kasus ini pun dimediasi oleh kepala sekolah. [3]

Selain itu, kasus bullying di lingkungan sekolah juga masih kerap terjadi. Bahkan KPAI telah mencatat selama tahun 2018 sebanyak 161 kasus bullying, adapun rinciannya; anak korban tawuran sebanyak 23 kasus atau 14,3 persen, anak pelaku tawuran sebanyak 31 kasus atau 19,3 persen, anak korban kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus atau 22,4 persen, anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 kasus atau 25,5 persen, dan anak korban kebijakan (pungli, dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah) sebanyak 30 kasus atau 18,7 persen. [4]

Masih banyak kasus lainnya yang masih saja kerap terjadi di dunia pendidikan, khususnya pendidikan di Indonesia. Tak hanya dalam pendidikan dasar dan menengah, kasus senioritas yang ada di pendidikan tinggi juga demikian. Atas dasar pengenalan kehidupan kampus, para oknum senior ini memanfaatkan momen ini untuk dapat mengendalikan junior mereka. Tidak banyak dari mereka yang harus meregang nyawa akibat ulah oknum senior [5]. Pamit menuntut ilmu agar dapat membanggakan orang tua di tanah rantau, namun pulang hanya tinggal nama dan kenangan.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, justru menjadi tempat menyeramkan. Tak hanya pada anak, namun juga para pendidik. Dilema dalam memberikan pendidikan yang tersandung pada HAM, menjadi boomerang sendiri bagi guru. Bermaksud untuk membuat anak tertib, namun disalahartikan sebagai bentuk tindakan kekerasan. Ketika guru diam, yang terjadi justru sebaliknya. Siswa menjadi semena-mena terhadap guru lantaran merasa kebal terhadap perlakuan guru karena adanya UU Perlindungan Anak dan Perlindungan HAM. Para orang tua juga terkadang mendukung apa yang dilakukan anak di sekolah. Merasa berkuasa atas dasar pembelaan.

Disini lah semua elemen turut serta dalam menciptakan dunia pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman. Harus ada kerja sama yang baik antara orang tua dan guru dalam mendidik anak. Tidak serta merta pendidikan hanya dari guru atau lingkungan sekolah saja, orang tua juga turut andil dalam mendidik anak-anaknya. Guru juga harus mampu kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Sinkronisasi pembelajaran di kelas dan lingkungan di sekitar anak, sehingga anak dapat mengerti tentang diri dan lingkungannya.

Opini, Umum

IPK vs IPeKa

IPK dan IPeKa, hemm apa bedanya? Sebenarnya, aku udah lama kepikiran judul ini untuk postingan blog. Hanya untuk opini pribadiku. Sekarang, aku kuliah semester 6. Yang kata orang-rang sih udah senior. Entah apa maksudnya, bagiku gak ada kata senior. Baik itu tingkatan kelas ataupun ilmu. Nyatanya, semua orang bisa belajar dengan siapa saja tanpa terkecuali.

Ngomong-ngomongin tentang IPK atau IPeKa, ini sesuatu hal yang sangat ditunggu -tunggu setiap semester. Kenapa enggak coba? Dengan mengetahui IPK atau IPeKa, bisa mengetahui tingkat kemampuan seseorang yang telah dicapai. Dengan IPK atau IPeKa, seseorang bisa mendaftar pekerjaan ataupun mendaftar beasiswa dan hal lainnya juga. Ada sesuatu hal yang mengganggu dipikiran ku, mungkin ini sebuah reaksi psikologi ku akan sebuah penilaian. Aku merasa kalau IPK hanya sekedar huruf dan angka berderet di atas sebuah kertas putih. Kenapa enggak coba?

Terkadang huruf dan angka tersebut hanya sebagai formalitas di tengah persaingan kelulusan yang semakin lama semakin sulit tatkala ingin mendaftar sebuah pekerjaan. IPK tinggi dan IPeKa besar, aku akan menjelaskan perbedaannya dari sisi opini ku ditengah banyaknya orang yang nyinyir akan pendidikan tinggi. Sebelumnya, aku akan memberitahu bahwa IPK adalah indeks prestasi kumulatif diperoleh dari sekumpulan IP (indeks prestasi) disetiap semester. Lalu bagaimana dengan IPeKa yang ku tulis sejak tadi? Itu hanya sebuah pembacaan dari IPK, hehehe… Ok, kali ini serius lagi.

IPK tinggi ku anggap pada seseorang yang benar-benar expert dan memang sesuai dengan apa yang tertulis. Biasanya, orang-orang dengan IPK tinggi sangat menguasai di bidang yang dipelajari. Didapatkan dengan mengurangi jatah main dan nonton drama. Berada di kursi terdepan saat pemidahan tassel.

Lalu, bagaimana dengan IPeKa besar? Masih sama dengan IPK tinggi, IPeKa jenis ini juga bertaburan dengan huruf-huruf cantik di dalamnya. Tak ada satupun (mungkin) yang buat sakit mata. Bahkan, mungkin juga bisa dapat yang terdepan saat pemindahan tassel. Terkadang, huruf yang tertera dari rasa kasihan penulis huruf dan juga yaa mungkin juga yang lainnya. Hal tersulit terkadang saat flashback di kelas, Niat hati ingin move on, tapi doi ngingetin terusss, capcay dehh 😀 😀 😀

Terkadang apapun yang diperoleh, baik IPK maupun IPeKa, tetaplah sederet huruf yang perlu perhatian sekalipun tassel sudah berpindah dan berlalu (bagi yang sudah wisuda duluan). Saat mendaftar kerja, maka akan ada batas minimal persyaratan IPK yang diminta. Aku juga ingin menghibur kalian yang membaca tulisan ku ini, (kalau ada yag baca :D) gak selamanya IPK menjadi penghalang untuk meraih apa yang diimpikan. Pernah dengar seseorang yang memiliki IPK tinggi tapi kriteria personal yang diharapkan HRD tidak sesuai dengan yang diharapkan? Lalu, pernah juga kan dengar dengan yang sebaliknya? Apa yang bisa disimpulkan? IPK itu memang penting untuk kelulusan, bukan berarti dengan mendengar cerita tadi menjadi santai dalam mendapatkan yang seharusnya(dalam hal ini IPK). Keterampilan dan pertanggung jawaban apa yang diperoleh itu sangat perlu.

Aku juga bukan seseorang yang mahir dalam bidangku, tapi aku selalu menghibur diriku dengan kata-kata itu. Walaupun aku kuliah yang kata sebagian orang jurusan yang keren, bagiku itu biasa aja, bahkan aku ingin belajar hal lainnya. Belajar sesuatu yang menjadi hobiku.

Opini, Umum

Untuk Apa Kuliah? 

Hari itu tepat di siang hari sebelum aku berangkat kuliah, aku lupa tanggal berapa. Aku datang ke kosan temanku untuk menyelesaikan tugas eldas yang hampir deadline. Maklum, bukan mahasiswa kalau tidak mengerjakan tugas mepet. Sejenak aku berpikir di tengah kesibukan jari-jariku menari, “untuk apa aku kuliah?”  Kulontarkan juga pada temanku. Dia pun menjawab pertanyaan anehku itu, “untuk mencari kerja, tapi dapetin ijazah dulu”. Kalau dipikir-pikir sih bener juga. Sekarang kebanyakan orang kuliah untuk mendapatkan ijazah lalu bekerja. Muncul lagi pertanyaan dalam kepalaku, “terus,  kok ya masih banyak tuh yang udah kuliah dapet gelar sarjana masih aja nganggur?”. “Yah mungkin karna skill yang dimiliki kurang.”,temanku menjawab pertanyaanku itu. 

Ada banyak hal yang kita diskusikan, terutama masalah kuliah. Dia juga bilang, “bohong banget menurut gue kalau orang kuliah untuk cari ilmu doang, buktinya nih ya nilai gede tapi gak sesuai. Lo pasti ngerti maksud gue”. Lagi-lagi aku manggut-manggut kaya mbah dukun. “Tapi yah gak semua gitu juga sih”, katanya. “Gue juga mikirnya gitu”.