Ceritaku, Puisi

Memandang Laut

Aku hanya ingin bisa memandang laut
Menikmati udara nya
Menangis dalam diam
Merasakan apa yang dirasakan
Mencoba berdamai dengan diri sendiri
Menerima semua yg ada

Lalu, aku memanggil diriku
Diriku pun datang
Aku pun memeluk diriku
Aku memintanya untuk menceritakan yang menjadi sesak di dada

Akan aku katakan pada diriku
Semuanya akan baik-baik saja
Aku akan selalu bersama diriku
Aku tidak akan meninggalkan diriku
Karena bagaimana pun, aku dan diriku satu kesamaan yang tak terpisahkan

Ku persilakan diriku untuk duduk tenang di dalam jiwaku
Bersama-sama menikmati hembusan angin laut
Bersama-sama mendengarkan deburan ombak
Dan bersama-sama melihat birunya air

Ku harap, sepulang diriku memandang laut
Diriku bisa lebih menikmati apa yang bisa dinikmati
Tanpa harus khawatir
Tanpa harus takut
Dan tanpa harus merasa cemas

Tenanglah diriku, aku akan selalu membersamai bagaimana pun keadaannya

Puisi

Dengarkan Aku

Aku yang berbicara padaku

Dengarkan apa yang akan aku perdengarkan padaku

Resapi setiap kata yang keluar dariku

Dera kehampaan dan kesunyian ku adalah milikku

Aku yang menjadi satu kesatuan dalam diriku

Tak perlu lagi risau akan kesendirianku

Aku yang datang sendiri, akan pulang sendiri dengan diriku

Diriku yang akan menghadapi lagi dera kehampaan dan kesunyian

Di bawah lembaran-lembaran kehidupan yang fana

 

Puisi

Sebuah Rasa

Seperti malam dengan kesunyiannya
Seperti pagi yg datang dengan kehangatannya
Seperti senja yang memeluk dengan keanggunan jingganya
Dan seperti waktu yg selalu mengiringi tanpa lelah

Aku di sini berada di tepi rasa kesendirian ku
Aku di sini berada di jalan waktu ku
Aku di sini berada di kefanaan yang abadi
Dan aku di sini yang berada di keheningan ku sendiri

Menikmati apa yang ada
Yang terlihat
Yang terasa
Dan yang terdengar

Aku yang sedang menunggu
Menunggu yang entah kapan aku bisa bertemu
Bertemu tanpa tahu apa yang akan terjadi
Diantara kepastian yang tak pasti

Tentang rasa yang membawa ku pada rasa yang tak dapat lagi ku jelaskan
Tentang rasa yang membawa ku pada rasa yang tak dapat lagi ku mengerti
Tentang rasa yang membawa ku pada rasa yang tak dapat lagi ku pikirkan
Dan tentang rasa yang mungkin tak akan bisa ku rasakan kembali

Dalam kehampaan
Dalam kesunyian
Dalam keheningan
Dan dalam kesenyapan

Inginku pergi menuju waktu ku
Menyambut diriku sendiri di dalam waktu ku sendiri
Menemani diriku sendiri bersama di dalam waktu ku sendiri
Dan memahami diriku sendiri di semua waktu ku sendiri

Tanpa ada rasa penolakan
Tanpa ada rasa penghakiman
Tanpa ada rasa amarah
Juga tanpa ada rasa dendam

Menikmati waktu ku sendiri dengan diriku sendiri dengan segala hal tentang diriku

Puisi

Senandung Kidung Malamku

Dengarkan senandung kidung malamku
Gaungkan suara ku hingga ke ujung semesta
Sampaikan juga salam ku pada Sang Semesta
Aku di sini, berjalan teriring waktu yang semakin menjepit

Dengarkan senandung kidung malamku
Resapi suara kehidupan ku
Bersimpuh dibalik jeruji  yang semakin membelenggu
Yang semakin lama aku ringkih di atas jalan setapak ruangku sendiri

Dengarkan senandung kidung malamku
Aku yang terjerembab dalam nestapa kesendirian
Pilar-pilar keagungan yang tiada artinya
Terhempas bebas dalam jurang keangkuhan

Puisi

Puisi untuk Negeriku, Bumi Dipasena

Sebenarnya ini, puisi ini ku tulis ketika aku melihat sebuah tayangan salah satu program tv swasta. Puisi ini juga telah ku tulis di linimasa akun sosial mediaku. Berharap, mereka yang duduk di atas singgahsana atas nama rakyat tidak melupakan kami di sini. Mereka hanya berbicara tanpa ada tindakan nyata yang setidaknya membela kami di sini, memahami kesulitan kami tanpa harus menambahkannya.

Dipasenaku Sayang, Dipasenaku Terlupakan

Hai kau yg gagah dan cantik yang duduk di atas singgahsana atas nama kami!
Masihkah ingat kah pada kami?
Atau mungkin sudah lupa pada kami?
Terkuburkan pada tumpukan kertas yg berisi suara hati kami di atas meja kerja mu?

Apa perlu kita duduk bersama bernostalgia kembali?
Supaya kau ingat keberadaan kami di sini
Supaya kau ingat pada perjuangan kami dahulu di zaman merdeka
Supaya kau ingat bagaimana kau di sana sekarangDahulu, tanah ibu pertiwi itu menjadi turut serta dalam menyayangi anak-anak di negri ini
Siang-malam tak henti bekerja keras menafkahi anak-anaknya
Suara deru mesin hasil kerja keras mengolahnya agar layak di persembahkan untuk negri ini
Kapal-kapal pengangkut pun tak henti-hentinya mondar-mondir berjalan menyusuri kanal perairan agar tetap terjaga baik kualitas hasil pengolahan

Tapi sekarang apa?
Kami di sini tak kau lihat
Perjuangan dan kerja keras kami yang pernah mengangkat negri ini menjadi eksportir terbesar Penaeus monodon
Mungkin hanya akan menjadi kenangan untuk selamanya

Sekarang, waktu yg terus berputar seiring mentari terbit dan terbenam di atas Dipasenaku
Tak ada lagi deru mesin pengolahan
Tak ada lagi kapal pengangkut
Bahkan, tak ada lagi hak kami atas kerja keras yg telah dilakukan

Semuanya sia-sia
Kami pernah mendatangi gedung perekam suara hati, kau tutup pintu
Kami perlu bantuan, kau tutup mata
Bahkan kami berteriak pun, kau tutup telinga mu!

Kami kecewa dengan sikapmu
Kami marah dengan perlakuanmu
Kami rasanya ingin mengutukmu
Setelah perjuangan kami, bukan kami jua yang menikmati

Mengapa kau seperti itu?
Tidak bisakah kau menundukkan pandangan matamu melihat kami di sini?
Tidak bisakah kau mendengar suara kami yang pernah teriris ini?
Bahkan, kau menambahkannya lagi luka itu

Kau membelanya
Kau bahkan sudah gelap nurani
Kau membiarkan dia pergi begitu saja
Membawa sejuta harapan kami akan sebuah keadilan

Malah janji busuk mu itu semakin busuk
Kami terisolir
Tak ada listrik, tak ada pakan, dan tak ada obat-obatan untuk menghidupi Penaeus monodon agar tetap bertahan
Bahkan, kau masih saja menyalahkan kami yang tidak patuh akan sebuah perjanjian yg mereka sendiri buat

Kau tahu? Kami pernah di hentak dengan mereka
Karena apa? Karena surat perjanjian manis itu semakin menambah daftar kepahitan kami

Kini, kami tak lagi mau bersedih lama hanya karena kau dan mereka
Kami coba bangkit dengan ketabahan kami atas dasar persaudaraan yang telah di bangun
Kami merawat sendiri Dipasena ini
Bukan untuk kalian, tapi untuk mengobati kesengsaraan kami dulu

Bandarlampung, 25 Maret 2018
Salam rindu untuk Dipasenaku,
Widiya Astuti

Prosa, Puisi

Ibu Pertiwi 

​Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intan mu terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Ibu…
Aku sebagai anak yg terlahir dari rahim kasih sayang mu
Tak tau harus bagaima menghapus duka lara mu
Ketika duka lara mu disebabkan ulah kami sendiri

Kami yang terlahir dari rahim yang sama, saling sikut karena perbedaan rasa
Kami yang terlahir di atas tanah kesucian kasihmu, saling mengusir dari rumah yg kau bangun
Kami yang terlahir ini bahkan bisa tumbuh dan berkembang dari perjuangan mu, saling merampas hanya untuk mengisi laparnya kekuasaan
Dan kami yang terlahir dari adilnya cinta yang engkau berikan pada kami, ternodai dengan sikap ego kami yang buta akan pengajaran indahnya hidup damai

Kami yang seharusnya bersaudara dalam pelukan kedamaian
Saling berteriak atas rasa perbedaan suara
Saling menyakiti atas rasa perbedaan selimut tulang
Dan saling merampas atas rasa dahaga harta

Ibu…
Maafkan kami anak-anak mu ini yang tak tahu bagaimana rasanya menyayangi
Maafkan kami yang tak tahu bagaimana caranya memaafkan
Maafkan kami yang tak tahu bagaimana rasanya menghargai
Dan maafkan kami yang tak tahu bagaimana caranya menunaikan tugas sebagai manusia yang terlahir di tanah yang kau wariskan

Puisi

Dia yang Menasihatiku

Ku sambut mentari pagi ini dengan selembar kertas baru
Kertas yg akan terisi dengan kisah-kisah
Kisah-kisah baru yang akan menjadi sebuah kenangan
Kenangan yang indah dan tak terlupakan
Terlupakannya hanya ketika kisah itu menjadi sesuatu yang tak seharusnya
Seharusnya, aku ingat
Ingat akan sebuah nasihat yg syahdu untuk didengar
Didengar dengan penuh penghayatan dan pengamalan

Aku pun bertanya pada yg menasihati
Pengamalan apa yang seharusnya aku lakukan?
Ia pun berkata dengan suara kerendahan hati, pengamalan yang penuh kasih sayang
Pengamalan yang tak menghakimi
Dan pengamalan yang tak mengadu domba