Ceritaku, Prosa

Mengertilah Kamu, Diriku

Aku ingin berbicara padamu, diriku. Dengarkan aku berbicara. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kau hanya perlu ingat wahai diriku, kita datang sendiri dan pulang juga sendiri. Jangan terlalu banyak kau curahkan perasaan mu pada siapa pun, atau bahkan apa pun itu. Suatu saat kita akan pulang sendiri. Tanpa siapa pun dan tanpa apa pun. Mereka hanya dapat menghantarkan kita hingga depan pintu kamar kita. Tempat peristirahatan terakhir kita dan hanya tersambung dalam memori kenangan terdalam.

Kita di sini hanya perlu membuat kenangan itu menjadi sesuatu yang mungkin tidak terlalu buruk bagi orang lain. Walaupun mungkin akan ada rasa di mana tidak ingin kita rasakan. Itu konsekuensi nya. Kau pasti tahu itu. Aku di sini bersama dengan dirimu. Kau pun tahu kan, kita satu kesatuan dalam sebuah fatamorgana yang tercipta menjadi sesuatu yang nampak. Kita hadapi semuanya bersama-sama yaa… Aku dan kau, bersama-sama menghadapi semuanya. Aku tak akan meninggalkan mu sendiri ataupun membiarkan mu sendiri merasakan semuanya. Aku ada untuk mu. Hadirkan aku dalam benak mu. Hadirkan aku dalam perasaan mu. Hadirkan aku kapan pun kamu mau. Aku akan selalu bersama mu. Untuk apapun itu. Ku harap, kamu mengerti wahai diriku….

Ceritaku, Prosa

Sakitku, Bahagiaku

Mungkin bagi sebagian banyak orang, rasa sakit adalah suatu perasaan yang akan menimbulkan kesedihan. Namun tidak bagiku. Kesakitan yang aku rasakan bagian lain dari rasa bahagia ku dari sisi bahagia ku yang lain saat ku tunjukkan pada orang lain. Menyedihkan, memang. Tapi dengan rasa sakit yang ada pada diriku, aku merasakan bahagia tersembunyi dari apa pun.

Aku bahagia, sungguh. Aku bahagia bersama dengan rasa sakit yang ada pada tubuh ku. Aku menikmatinya. Dia yang mengerti bagaimana segala rasa dapat ku rasakan dengan rasa yang sesungguhnya. Aku tenang. Aku tenang dalam rasa sakit ku. Meski derai air mata menetes di pipi ku, aku sungguh bahagia menikmatinya. Memberikan ku ketenangan tersendiri dari apa pun.

Aku merasakannya seperti candu. Candu yang membuatku rindu ketika rasa sakit itu pergi. Pelampiasan rasa yang tak tahu aku harus bagaimana mengungkapkannya. Yang pergi meninggalkan ku sendiri untuk menikmati bagian rasa yang lain. Rasa sakit ini, menjadi bagian dari bahagiaku. Sakit penyakit yang datang menemaniku. Terima kasih maag, terima kasih radang tenggorokan, terima kasih demam, terima kasih ku ucapkan pada kalian semuanya. Tetap di sini bersamaku. Sesekali datanglah menyapaku. Menyapa kesendirian ku, menyapa sunyi ku, dan menyapa perasaan ku.

Ceritaku, Prosa

Aku

Akan aku beritahu sesuatu pada kalian tentang aku. Yang kalian lihat itu bukan aku, meski raga ku terlihat bersama kalian. Yang tertawa bersama kalian itu bukan aku, meski suaranya terdengar di telinga kalian. Itu bukan aku, itu seseorang yang lain dari diri aku.

Seperti biasanya, aku hanya menjadi yang lain untuk menutupi yang lainnya lagi. Aku hanya menyetujui untuk menjadi seseorang yang lain. Supaya dunia bisa menerima ku. Jika kalian tau diriku yang berada di sini, aku yakin kalian akan meninggalkan aku sendiri. Tanpa kalian juga aku sudah sendiri. Sendiri dalam kesendirian.

Ceritaku, Prosa

Diam

Terkadang, diam itu lebih baik.

Terkadang pula hanya mengetahui yang ada itu lebih baik. 

Terkadang juga mengetahui apa yang biasanya dan menjalani yang menjadi rutinitas itu sedikit menyenangkan walaupun terkadang juga membosankan. 

Diam itu aku. 

Aku itu yang tak ingin peduli. 

Aku hanya ingin tau dimana letak salahnya. 

Tapi, orang diam. 

Dia lupa tapi tau. 

Ah, berperang dengan pikiran sendiri untuk selalu berpikir positif. 

Semesta alam masih mendampingi ku. 

Menguatkan ku yang mungkin saja pertahanan jiwaku runtuh.

Prosa

Penolakan

Kamu menolakku tanpa melihat bagaimana aku berjuang menunggu kedatangan mu. Setiap mentari senja menuju tahtanya, aku selalu berdoa, semoga kelak kita akan bertemu lagi. Di ketinggian waktu, bersama kenangan baru yang akan dilukiskan.

Aku sendiri, selalu sendiri. Bersama kenangan lalu yg pernah kita jalani. Aku mengenangnya. Berharap kau juga demikian.
Satu-satunya hal yg dapat ku peluk erat dengan ketenangan di kegelapan langit malam.

Prosa

Jerat

Aku memang belum bisa mencintaimu. Mencintaimu yang menjadi pilihan orang lain untuk ku. Itu sulit bagiku. Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu begitu cepat dari sebuah pilihan yang bukan dari hatiku? Kau tahu? Hidupku bukan untuk terikat dengan yang hidup. Aku membenci keadaan itu. Walaupun begitu, aku tahu di mana letak batasnya. Setidaknya, batasan itu mengingatkan ku.

Aku juga belum bisa menerima mu dengan sepenuh hati dalam hidupku. Kau terlalu asing dalam penglihatan ku. Atau mungkin ini yang dinamakan penolakan atas apa yang pernah dulu aku inginkan teriring rasa kepongahan?

Ya Tuhan, apa yang harusnya aku lakukan?

Prosa

Perjalanan

Matahari semakin naik untuk memancarkan kemegahan sinarnya, dengan peluh yang semakin deras mengalir ku langkahkan kaki menyusuri jalan kehidupan. 

“Hendak pergi kemanakah engkau wahai dara?”, tanya seorang yang ku lihat sudah cukup lama mengembara di daratan kehidupan. 

“Aku hendak pergi ke suatu tempat yang bisa memberikan ku kenyamanan akan jiwaku. Bisakah kau tunjukkan di mana?”. Ku lihat, ia terdiam dengan tatapan seolah terheran dengan pertanyaan ku itu. 

“Sejauh apapun langkahmu itu, ku pastikan kau tidak akan menemui nya. Kenyamanan itu hanyalah sebuah ilusi dalam bayang-bayang kehidupan. Kau tak akan menemukannya. Itu hanya akan membuat mu semakin terkekang”, jawabnya.

“Tapi… Bukankah orang-orang selalu mencari kenyamanan dalam hidupnya. Untuk apa hidup jika hanya merasakan penderitaan?” tegas ku menjawab pernyataannya.

Prosa

Malam, Damaikan Aku

Malam, aku ingin mengadu kepada mu. Kalau kau tak ingin mendengarkanku juga, aku akan tetap berceloteh. Kau tau, senja hari ini membuatku bersedih. Jika kau bertanya kenapa? Aku lah seharusnya yang bertanya padamu. Bukankah kau dan dia selalu beriringan setiap hari? Kau pasti tahu bagaimana ia.

Tapi, kali ini aku serius malam. Aku hanya ingin kau temani dan dengarkan saja aku berceloteh. Hitung-hitung aku menemanimu yang sedang kesepian. Bukankah begitu malam? Kau dan aku sama saja, dilanda rasa sepi setiap hari tatkala bintang-bintang muncul dengan kecantikannya.

Malam, aku ingin kau dengarkan aku berceloteh. Tapi kau tadi tak juga menjawab pertanyaan ku. Kenapa senja hari ini begitu jahat padaku. Bukan, bukan dia yang jahat. Lalu siapa? Aku? Malam, aku yang merasa tersakiti. Dia merusak hariku. Lalu apa salahnya? Aku hanya ingin menikmati kedamaian dengannya, itu saja. Bukan, sekali bukan. Kau yang tak bisa berdamai dengannya. Ku beri tau kau jiwa yg terusik harinya, bahwa kaulah yang sebenarnya tak dapat berdamai dengan dirimu sendiri. Lalu mengapa pula aku? Iya, ku katakan sekali lagi. Kau lah tak dapat berdamai dengan waktu yang kau miliki. Salah ku lagi? Apa guna aku mengadu padamu. Sudah ku katakan malam, aku hanya ingin kau mendengar celotehanku. Mengapa pula kau ikut berceloteh malam?

Aku diliput sepi yang menjerat. Bukan itu saja, tak bisakah kau mendamaikan ku dengan mereka? Senja dan waktu? Cobalah malam, kali ini kau berpihak padaku. Apalagi yang harus ku lakukan? Apalagi? Coba katakan padaku. Aku harap kau mendengar celotehanku ini. Malam, sampai kapan? Menunggu kekasihmu terbitkah? Itu juga menyakitkan. Sama seperti mu. Perlukah aku berteriak memecah jarak kesunyian ini? Damaikan aku dengan mereka. Ku mohon.

Prosa, Puisi

Ibu Pertiwi 

​Ku lihat ibu pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intan mu terkenang
Hutan, gunung, sawah, lautan
Simpanan kekayaan
Kini ibu sedang lara
Merintih dan berdoa

Ibu…
Aku sebagai anak yg terlahir dari rahim kasih sayang mu
Tak tau harus bagaima menghapus duka lara mu
Ketika duka lara mu disebabkan ulah kami sendiri

Kami yang terlahir dari rahim yang sama, saling sikut karena perbedaan rasa
Kami yang terlahir di atas tanah kesucian kasihmu, saling mengusir dari rumah yg kau bangun
Kami yang terlahir ini bahkan bisa tumbuh dan berkembang dari perjuangan mu, saling merampas hanya untuk mengisi laparnya kekuasaan
Dan kami yang terlahir dari adilnya cinta yang engkau berikan pada kami, ternodai dengan sikap ego kami yang buta akan pengajaran indahnya hidup damai

Kami yang seharusnya bersaudara dalam pelukan kedamaian
Saling berteriak atas rasa perbedaan suara
Saling menyakiti atas rasa perbedaan selimut tulang
Dan saling merampas atas rasa dahaga harta

Ibu…
Maafkan kami anak-anak mu ini yang tak tahu bagaimana rasanya menyayangi
Maafkan kami yang tak tahu bagaimana caranya memaafkan
Maafkan kami yang tak tahu bagaimana rasanya menghargai
Dan maafkan kami yang tak tahu bagaimana caranya menunaikan tugas sebagai manusia yang terlahir di tanah yang kau wariskan

Ceritaku, Prosa

Langkah Kakiku

Pagi ini matahari sudah meninggi meninggalkan peraduannya. Begitu juga dengan ku. Ketika aku keluar, tak pelak ku lihat teriknya mentari yg begitu menyengat membakar tubuhku. Sayangnya mentari ini tak dapat membakar masa lalu ku. Yah walau ku tahu, cahaya mentari itu juga berasal dari masa lalu. Cahaya yang berasal dari delapan menit yang lalu.

Ku langkahkan kakiku menuju tempat yang tak membuatku mengerti. Mengerti akan sebuah hidup yg banyak orang melaluinya. Padahal banyak orang berlalu-lalang di hadapanku. Aku terdiam. Melihat mereka berjalan. Aku pun jenuh, ingin berjalan juga seperti mereka. Lalu, aku pun mulai mengikuti mereka dari kejauhan.