Cerpen, Opini, Umum

Rangkul Aku

pita hiv
Sumber gambar : www.shutterstock.com

Apa yang kamu rasakan ketika pertama kali tahu bahwa kamu adalah seorang ODHIV? Kaget? Sedih? Atau malah justru lemas gak tahu harus berbuat apa? Yaps, semuanya itu justru aku rasain tatkala aku tahu bahwa ada makhluk mikroorganisme bersemayam dalam tubuh ku dan itu seumur hidup. S-E-U-M-U-R H-I-D-U-P!!! Bahkan aku gak tau harus berbuat apa dengan sahabat “baru” ku ini.

Belum lagi kalau harus menghadapi tekanan sosial soal penyakit kutukan ini. Serasa dunia kiamat. Ya, bagiku ini kiamat. Cita-cita yang selama ini aku impikan, rasanya pupus sudah semuanya. Dunia sudah berakhir. Aku belum siap menerima kenyataan ini. Aku belum bisa terima dengan semua ini. Pada akhirnya, hanya ada penyesalan yang datang. Menyesal dengan hal sebelumnya yang pernah aku lakukan dan hanya ada seandainya…

Aku tahu, ini teguran Tuhan padaku. Aku terlalu asik dengan dunia ku. Aku melupakan Tuhan, keluarga ku, dan juga orang-orang yang menyayangiku. Aku melupakan semuanya. Entahlah, masih adakah harapan lainnya yang masih bisa ku raih? Aku tak tahu. Aku hanya berharap, semesta masih mau merangkul ku dalam kesendirian ku ini.

Saat ini, aku masih menatap kertas hasil VCT ku yang keluar beberapa menit yang lalu. Bahkan, perkataan dokter yang mendampingiku, serasa tak lagi terdengar oleh telingaku. Aku masih tenggelam dalam rasa kesedihan ku. Walau ku tahu, aku harus menerima kenyataan ini. Pahit memang, tapi mau bagaimana lagi. Setelah ini, aku harus lebih memperhatikan kondisi kesehatanku. Setidaknya, aku masih lebih beruntung dari teman-teman senasibku yang lain. Aku lebih tahu dulu sehingga penangananku tidak terlambat. Aku juga harus mematuhi saran dan nasihat dokter jika aku ingin hidup lebih lama lagi. Ya, maut memang di tangan Tuhan. Setidaknya sebagai manusia, aku tak ingin lebih lancang lagi.

Aku akan menebusnya. Entahlah, Tuhan menerima penebusan dosaku atau tidak. Aku hanya ingin melakukannya. Kondisi CD4 ku saat ini masih bisa dikatakan diambang normal. Dokter pun menyarankan aku untuk segera minum beberapa obat “penambah umur” yang harus aku minum tepat waktu. Selain itu juga, serangkaian terapi lainnya juga harus ku patuhi.

Aku harus bangkit. Aku tak boleh berlama-lama larut dalam kesedihan ku. Jalan ku masih panjang ketimbang larut dalam kesedihan. Keinginan dan cita-cita lainnya masih ada yang belum aku wujudkan.

Tentang stigma yang mungkin nanti aku terima, anggap saja mereka tidak tahu. Kewajiban ku, memberi tahu mereka supaya mereka tidak menjauhi orang-orang di luar sana yang senasib denganku. Aku masih sama dengan kalian. Aku masih bisa beraktivitas normal seperti kalian. Hanya saja, kondisi kesehatan yang berbeda. Tubuhku memang mulai rentan dengan adanya “makhluk-makhluk mikroorganisame” lainnya. Tapi, kalau aku boleh protes. Aku ingin mengatakan, kami tak ubahnya dengan orang lainnya yang sakit dalam pengobatan. Mungkin sangat sedikit peluang untuk bisa“makhluk” itu benar-benar hilang. Pesanku pada kalian bila bertemu teman-teman ku lainnya, “Jauhi penyakitnya, bukan orangnya”.

Note : Tulisan ini aku buat atas dasar rasa prihatin terhadap banyaknya orang yang memperlakukan ODHIV seperti makhluk terkutuk.

Ceritaku, Opini

Aku yang Hidup

Ada begitu banyak hal yg sudah terlewati. Tapi, ada hal yang ku pikirkan. Apa yang sudah ku dapatkan tentang hidup? Atau apa yang sudah ku berikan pada hidup?

Aku ingin menuliskannya, tapi entah harus dimulai dari mana. Ada begitu banyak yg ingin ku tuliskan. Bukan tentang siapapun, tapi tentang hidup ku.

Bagiku, aku yg bersemayam dalam diriku bukan hanya sekedar sebagai aku yg hidup. Aku yg diberi kehidupan, bukan hanya sekedar untuk tetap bertahan pada kehidupan. Namun, yang bisa bergabung pada kehidupan-kehidupan yang lain. Kehidupan yang berada di sekitar ku.

Jika berpikir demikian, sepertinya terlalu idealis. Kenyataannya, entahlah…

Dari beberapa hal yg didiskusikan dengan seseorang, andai ku tau maknanya, aku mungkin seperti yg ku tuliskan sebelumnya. Hidup tak hanya sekedar hidup.

Malam itu, entah mengapa, aku tak bisa tidur. Hingga aku membuat oatmeal untuk perut ku yg tak bisa diam. Aku tersentak dengan bayangan yang terlintas dalam kepala ku. Malam ini, aku masih bisa makan yg ingin ku makan. Tapi, bagaimana dengan mereka yg berada di luar sana? Tengah malam, kedinginan, tak ada rumah, apalagi tempat yang nyaman hanya untuk melepas penat. Andaikan saja, kebanyakan dari yang hidup berbaur, ku yakin. Tak ada hidup-kehidupan yang hanya sekedar hidup. Aku juga kembali pada diriku, aku juga tak demikian. Aku juga masih mengabaikan kehidupan yang jelas terlihat pada mata ku.

Aku hanya diam ketika melihat kucing jalanan, malah aku main-main dengan kucing itu. Aku berencana untuk membawa makanan kucing, tapi aku lupa mulu mau beli. Setidaknya, ada aku yg hidup, turut hadir pada kehidupan itu.

Aku juga hanya diam ketika aku melihat seseorang membuang sampah sembarangan di dalam mobil. Aku ingin menegurnya, atau menyediakan wadah untuk sampah. Lagi-lagi, aku hanya terdiam dan acuh. Aku lupa pada kehidupan yang memberikan ku kehidupan dalam diam. Alam lingkungan yg menjadi rumah kehidupan ku.

Aku sering diam ketika melihat orang yang berlalu lalang saat berpapasan. Aku tidak menyapa, janganlah itu, aku malah diam tertunduk lalu pergi. Kalau saja aku tersenyum walaupun tak terbalas, setidaknya aku mengisi kekosongan hidup yang hambar.

Aku juga diam ketika ada seseorang yang merokok di dekat ku. Padahal, ada kehidupan yang terganggu dan butuh diriku untuk agar asap itu menghilang. Atau setidaknya berkurang. Walaupun mungkin, perokok itu juga akan mengabaikan ku. Tentunya, dengan kekaleman.

Aku juga diam ketika aku melihat pemulung terduduk lelah di samping gerobaknya. Aku tak melakukan apapun. Aku hanya diam. Padahal, mungkin saja mereka butuh sapaan walaupun mungkin aku tak mengulurkan tangan.

Ada begitu banyak diam yang ku lakukan. Semesta, maafkan aku…

Opini, Umum

Potret Pendidikan Negriku

Akhir-akhir ini kita sering melihat ataupun membaca terkait dengan kekerasan dalam dunia pendidikan, baik dalam media online maupun offline. Entah guru yang melakukan ataupun siswanya, bahkan tak jarang pula orang tua ikut pula dalam tindakan tersebut. Meskipun demikian, tidak serta merta mereka yang melakukannya tanpa sebab.

Kasus penganiayaan ini pernah terjadi di Sulawesi Utara pada Agustus 2016, dimana seorang guru arsitek bernama Dasrul dianiaya oleh siswanya sendiri yang berinisial MAS lantaran tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Tak hanya sampai di situ, orang tuanya pun turut serta dalam membela anaknya dengan melakukan hal yang sama hingga melukai bagian dahi dan hidung sang guru. Peristiwa ini pun berlanjut hingga proses hukum. Keduanya ditetapkan tersangka oleh Polsek Tamalate Makassar. Namun sekarang, sang guru telah kembali kepangkuan yang Maha Kuasa karena mengalami kecelakaan.[1]

Kasus lainnya di bulan Desember 2017, seorang guru kesenian dari Trojun, Madura bernama Budi mengalami hal yang sama lantaran siswa yang diajarnya tidur saat pelajaran tengah berlangsung. Sang guru pun mendekati siswa dan menegurnya dengan cara mencoret bagian pipinya menggunakan tinta. Tak terima atas perlakuan gurunya, siswa itu pun melakukan tindakan pemukulan di bagian pelipis wajah dan sang guru pun mengalah. Tidak hanya sampai di situ, usai jam sekolah berakhir, siswa berinisial HI pun menunggu Budi di Jalan Raya Jrengik dan kembali menganiaya sang guru. Kini sang guru pun telah kembali ke pangkauan yang Maha Kuasa setelah dokter memvonis guru Budi mengalami mati batang otak.[2]

Kasus lainnya juga terjadi di Purwokerto, seorang guru yang menampar siswa berinisial L lantaran siswa tersebut tidak datang tepat waktu saat jam pelajaran dimulai. Selain disebabkan hal itu, siswa tersebut sudah berulang kali melakukan kesalahan seperti tidak mengerjakan tugas, sering bolos, dan puncak kemarahan guru tersebut ketika datang terlambat ke kelas. Sang guru sudah berada di dalam kelas, namun siswa tersebut belum memasuki ruang kelas. Kasus ini pun dimediasi oleh kepala sekolah. [3]

Selain itu, kasus bullying di lingkungan sekolah juga masih kerap terjadi. Bahkan KPAI telah mencatat selama tahun 2018 sebanyak 161 kasus bullying, adapun rinciannya; anak korban tawuran sebanyak 23 kasus atau 14,3 persen, anak pelaku tawuran sebanyak 31 kasus atau 19,3 persen, anak korban kekerasan dan bullying sebanyak 36 kasus atau 22,4 persen, anak pelaku kekerasan dan bullying sebanyak 41 kasus atau 25,5 persen, dan anak korban kebijakan (pungli, dikeluarkan dari sekolah, tidak boleh ikut ujian, dan putus sekolah) sebanyak 30 kasus atau 18,7 persen. [4]

Masih banyak kasus lainnya yang masih saja kerap terjadi di dunia pendidikan, khususnya pendidikan di Indonesia. Tak hanya dalam pendidikan dasar dan menengah, kasus senioritas yang ada di pendidikan tinggi juga demikian. Atas dasar pengenalan kehidupan kampus, para oknum senior ini memanfaatkan momen ini untuk dapat mengendalikan junior mereka. Tidak banyak dari mereka yang harus meregang nyawa akibat ulah oknum senior [5]. Pamit menuntut ilmu agar dapat membanggakan orang tua di tanah rantau, namun pulang hanya tinggal nama dan kenangan.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat menuntut ilmu, justru menjadi tempat menyeramkan. Tak hanya pada anak, namun juga para pendidik. Dilema dalam memberikan pendidikan yang tersandung pada HAM, menjadi boomerang sendiri bagi guru. Bermaksud untuk membuat anak tertib, namun disalahartikan sebagai bentuk tindakan kekerasan. Ketika guru diam, yang terjadi justru sebaliknya. Siswa menjadi semena-mena terhadap guru lantaran merasa kebal terhadap perlakuan guru karena adanya UU Perlindungan Anak dan Perlindungan HAM. Para orang tua juga terkadang mendukung apa yang dilakukan anak di sekolah. Merasa berkuasa atas dasar pembelaan.

Disini lah semua elemen turut serta dalam menciptakan dunia pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman. Harus ada kerja sama yang baik antara orang tua dan guru dalam mendidik anak. Tidak serta merta pendidikan hanya dari guru atau lingkungan sekolah saja, orang tua juga turut andil dalam mendidik anak-anaknya. Guru juga harus mampu kreatif dalam menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Sinkronisasi pembelajaran di kelas dan lingkungan di sekitar anak, sehingga anak dapat mengerti tentang diri dan lingkungannya.

Opini, Umum

IPK vs IPeKa

IPK dan IPeKa, hemm apa bedanya? Sebenarnya, aku udah lama kepikiran judul ini untuk postingan blog. Hanya untuk opini pribadiku. Sekarang, aku kuliah semester 6. Yang kata orang-rang sih udah senior. Entah apa maksudnya, bagiku gak ada kata senior. Baik itu tingkatan kelas ataupun ilmu. Nyatanya, semua orang bisa belajar dengan siapa saja tanpa terkecuali.

Ngomong-ngomongin tentang IPK atau IPeKa, ini sesuatu hal yang sangat ditunggu -tunggu setiap semester. Kenapa enggak coba? Dengan mengetahui IPK atau IPeKa, bisa mengetahui tingkat kemampuan seseorang yang telah dicapai. Dengan IPK atau IPeKa, seseorang bisa mendaftar pekerjaan ataupun mendaftar beasiswa dan hal lainnya juga. Ada sesuatu hal yang mengganggu dipikiran ku, mungkin ini sebuah reaksi psikologi ku akan sebuah penilaian. Aku merasa kalau IPK hanya sekedar huruf dan angka berderet di atas sebuah kertas putih. Kenapa enggak coba?

Terkadang huruf dan angka tersebut hanya sebagai formalitas di tengah persaingan kelulusan yang semakin lama semakin sulit tatkala ingin mendaftar sebuah pekerjaan. IPK tinggi dan IPeKa besar, aku akan menjelaskan perbedaannya dari sisi opini ku ditengah banyaknya orang yang nyinyir akan pendidikan tinggi. Sebelumnya, aku akan memberitahu bahwa IPK adalah indeks prestasi kumulatif diperoleh dari sekumpulan IP (indeks prestasi) disetiap semester. Lalu bagaimana dengan IPeKa yang ku tulis sejak tadi? Itu hanya sebuah pembacaan dari IPK, hehehe… Ok, kali ini serius lagi.

IPK tinggi ku anggap pada seseorang yang benar-benar expert dan memang sesuai dengan apa yang tertulis. Biasanya, orang-orang dengan IPK tinggi sangat menguasai di bidang yang dipelajari. Didapatkan dengan mengurangi jatah main dan nonton drama. Berada di kursi terdepan saat pemidahan tassel.

Lalu, bagaimana dengan IPeKa besar? Masih sama dengan IPK tinggi, IPeKa jenis ini juga bertaburan dengan huruf-huruf cantik di dalamnya. Tak ada satupun (mungkin) yang buat sakit mata. Bahkan, mungkin juga bisa dapat yang terdepan saat pemindahan tassel. Terkadang, huruf yang tertera dari rasa kasihan penulis huruf dan juga yaa mungkin juga yang lainnya. Hal tersulit terkadang saat flashback di kelas, Niat hati ingin move on, tapi doi ngingetin terusss, capcay dehh 😀 😀 😀

Terkadang apapun yang diperoleh, baik IPK maupun IPeKa, tetaplah sederet huruf yang perlu perhatian sekalipun tassel sudah berpindah dan berlalu (bagi yang sudah wisuda duluan). Saat mendaftar kerja, maka akan ada batas minimal persyaratan IPK yang diminta. Aku juga ingin menghibur kalian yang membaca tulisan ku ini, (kalau ada yag baca :D) gak selamanya IPK menjadi penghalang untuk meraih apa yang diimpikan. Pernah dengar seseorang yang memiliki IPK tinggi tapi kriteria personal yang diharapkan HRD tidak sesuai dengan yang diharapkan? Lalu, pernah juga kan dengar dengan yang sebaliknya? Apa yang bisa disimpulkan? IPK itu memang penting untuk kelulusan, bukan berarti dengan mendengar cerita tadi menjadi santai dalam mendapatkan yang seharusnya(dalam hal ini IPK). Keterampilan dan pertanggung jawaban apa yang diperoleh itu sangat perlu.

Aku juga bukan seseorang yang mahir dalam bidangku, tapi aku selalu menghibur diriku dengan kata-kata itu. Walaupun aku kuliah yang kata sebagian orang jurusan yang keren, bagiku itu biasa aja, bahkan aku ingin belajar hal lainnya. Belajar sesuatu yang menjadi hobiku.

Opini, Umum

Untuk Apa Kuliah? 

Hari itu tepat di siang hari sebelum aku berangkat kuliah, aku lupa tanggal berapa. Aku datang ke kosan temanku untuk menyelesaikan tugas eldas yang hampir deadline. Maklum, bukan mahasiswa kalau tidak mengerjakan tugas mepet. Sejenak aku berpikir di tengah kesibukan jari-jariku menari, “untuk apa aku kuliah?”  Kulontarkan juga pada temanku. Dia pun menjawab pertanyaan anehku itu, “untuk mencari kerja, tapi dapetin ijazah dulu”. Kalau dipikir-pikir sih bener juga. Sekarang kebanyakan orang kuliah untuk mendapatkan ijazah lalu bekerja. Muncul lagi pertanyaan dalam kepalaku, “terus,  kok ya masih banyak tuh yang udah kuliah dapet gelar sarjana masih aja nganggur?”. “Yah mungkin karna skill yang dimiliki kurang.”,temanku menjawab pertanyaanku itu. 

Ada banyak hal yang kita diskusikan, terutama masalah kuliah. Dia juga bilang, “bohong banget menurut gue kalau orang kuliah untuk cari ilmu doang, buktinya nih ya nilai gede tapi gak sesuai. Lo pasti ngerti maksud gue”. Lagi-lagi aku manggut-manggut kaya mbah dukun. “Tapi yah gak semua gitu juga sih”, katanya. “Gue juga mikirnya gitu”.