Ceritaku

Semesta Rumahku

Kalau kebanyakan orang lebih rindu rumahnya dibandingkan dengan di perantauan, tapi enggak berlaku bagi ku. Aku merasa lebih nyaman dan tenang ketika berada di luar rumah.

Lalu, di mana rumah ku? Semesta. Semesta adalah rumah ku yang Tuhan berikan untukku. Aku bisa memilih di mana aku ingin tinggal. Ya, tentu saja harus aku usahakan dulu.

Kalau ada yang tanya, emang ga kangen sama sekali dengan rumahmu? Rumah tempat tinggal mu semasa kecil gitu? Bukan, itu bukan rumah ku. Itu rumah orang tua ku. Sekali lagi ku katakan, Semesta adalah rumahku. Aku ga ada rasa kangen dengan rumah itu. Ini jujur ku katakan.

Bagiku, rumah adalah tempat di mana aku bisa menjadi diriku sendiri. Membuat ku nyaman, tanpa ada rasa ga enak ketika aku tinggal. Jika tidak demikian, itu berarti bukan rumahku. Lalu, apa? Yahh aku cuma numpang aja. Sampai saat di mana aku menemukan rumahku sendiri.

Ceritaku

G-a GA, b-u BU, T, GABUT

GABUT… Sebuah kata anak jaman now yang bisa diartikan sebagai ga ada kerjaan. Bingung mau ngapain, saking banyaknya kerjaan gatau mana yang mau dikerjain duluan. Itulah GABUT.

Selain gabut, ada lagi kata galau. Iya, galau. Gundah gulana. Nah yang ini, yang lagi dirasain. Galau karena kucing ku si Mochi sakit. Mau bawa ke puskeswan kok lama banget bukanya, hari Senin. Kasian sebenernya liat Mochi sakit. Kok ya sama kek aku sakitnya, batu pilek ketambahan sakit matanya. Kasian Mochi…🥺🥺🥺

Ceritaku

Sahabat Seperjuangan

Teruntuk kalian sahabat seperjuanganku tersayang, Atim dan Fathoni…

Terima kasih atas waktunya yang telah meluangkan waktu untuk menyayangi ku. Memberikan support untuk mental ku yang sewaktu-waktu dapat terjatuh seperti hujan turun.

Aku salut dengan komitmen kalian untuk kita saling bantu menyelesaikan misi kita masing-masing. Menyelesaikan skripsi dengan motivasi yang berbeda. Tiap hari kalian masih mau ku ajak ngumpul.

Tujuannya ya biar ga sumpek aja sih ngerjain sendiri, kalau ada temennya kan jadi semangat. Akan aku abadikan kalian dalam tulisan ku yang mungkin akan ga jelas ini.

Supaya ada kenang-kenangan atas perjuangan kita. Rasa minder, rendah diri, semua yang buat kita down, bahwa kita bisa melewati itu semua.

Ceritaku

My Engagement Day

Alhamdulillah…. dapat THR… Tunangan Hari Raya 🥰💕

Disaksikan duo awan yang menghiasi langit siang. Disaat banyak wanita menantikan sang pujaan hati datang melamar, mamas @memysukem datang tanpa ku minta.

Syukur Alhamdulillah atas segala hal yang telah mampu dilewati. Kesabaranmu untuk sampai di proses ini semoga menjadi contoh teladan untukku ke depannya. Tidak hanya pada sampai saat ini, namun sampai di mana kelak kita bisa bersama tanpa dibatasi.

Belajar dan berproses bersama. Saling mengingatkan dalam kebaikan😊🥰💞

Teruntuk kalian yang sedang menanti, apapun rencana kalian semoga dipermudah dalam setiap langkahnya.

Terimakasih banyak atas perjuangan dan kesabarannya☺️ Bismillah… Semoga dipermudah langkah selanjutnya. Aamiin.

Aamiin…

Bumi Dipasena Makmur, 16 Mei 2021

Ceritaku

Near Death Experiences

For the first time, setelah beberapa waktu yang lalu seseorang menceritakan pengalamannya tentang Near Death Experiences, jadi ngerasain sendiri sensasinya. Gimana enggak coba? Dua hari berturut-turut rasanya nyeri banget dada. Entah di bagian jantung atau bukan. Yang jelas, kalu aku bernafas makin jadi rasa sakitnya. Konsul dengan Bu Anita, diminta untuk segera periksa karena banyak kejadian yang telat penanganan. Sebenarnya udah lama sih ngerasain ini, cuma ga di rasa aja. Selagi masih bisa di tangani sendiri, kenapa engga? Ya kannn?

Penanganannya, ya tahan nafas sampai sakitnya hilang. Kalau udah reda dan hilang rasa nyerinya baru bisa nafas lega. Amaze kann hewhewhew. Kemarin sih udah coba ke puskesmas, ternyata kalau sabtu itu tutup dan ada yang cuma setengah hari. Lahh pas sampe, pas pada pulang petugasnya. Ya udah deh pulang juga akunya. Pernah waktu nganterin Elis ke IGD nya ga nyaman pelayanannya. Sebenarnya ga ngapa-ngapa sih, ya ada sesuatu yang bikin ga nyaman aja. Lebih baik akunya pulang aja. Tidur dari jam 4 sore, bangun sekitar jam 6 sore, lah kok malah nyut-nyutan sakitnya. malamnya keringat dingin telapak tangan sama kakinya. Minta dicariin obat aspirin ga ada. Akunya minum paracetamol deh. Lumayan redain sakitnya. Itu aku minum waktu pas tengah-tengah lagi dzikiran shalat maghrib. Daripada makin lama makin ga bisa nafas, ya udah aku minum aja. Belum makan nasi pula. Abisnya aku langsung makan nasi.

Bu Anita sama mas Theo minta aku segera periksa. Sebenarnya di suruh semalam. Cuman, masih bisa di tahan. Ya udah tahan aja. Melewati malam yang sungguh panjang banget. Puji Tuhan Semesta Alam, bisa melewati malam dengan baik. Istirahat lebih cepat dari biasanya. Padahal aku baru bangun jam 6 sore. Biasanya kalau bangun jam segitu ga bisa tidur. Sedih, sebenarnya. Liat respon dia gitu pas aku minta ditemenin ke IGD. Ya aku tau, aku lagi ga punya uang. Tapi ya sudahlah. Sungguh, prinsipku akan terus berlaku. Apapun yang masih bisa aku lakukan sendiri, akan aku lakukan. Sekalipun aku nanti sudah bersuami pun, apapun akan aku lakukan sendiri. Sohibku panik karena keringat dingin ku muncul dan membasahi telapak tangan dan kaki, aku coba santai menghadapinya. “Dah di bawa istirahat aja. Mudah-mudahan ga kenapa-kenapa”. Puji Tuhan Semesta Alam, malam yang panjang terlewati dengan baik. Terima kasih Semesta.

Ceritaku, Puisi

Memandang Laut

Aku hanya ingin bisa memandang laut
Menikmati udara nya
Menangis dalam diam
Merasakan apa yang dirasakan
Mencoba berdamai dengan diri sendiri
Menerima semua yg ada

Lalu, aku memanggil diriku
Diriku pun datang
Aku pun memeluk diriku
Aku memintanya untuk menceritakan yang menjadi sesak di dada

Akan aku katakan pada diriku
Semuanya akan baik-baik saja
Aku akan selalu bersama diriku
Aku tidak akan meninggalkan diriku
Karena bagaimana pun, aku dan diriku satu kesamaan yang tak terpisahkan

Ku persilakan diriku untuk duduk tenang di dalam jiwaku
Bersama-sama menikmati hembusan angin laut
Bersama-sama mendengarkan deburan ombak
Dan bersama-sama melihat birunya air

Ku harap, sepulang diriku memandang laut
Diriku bisa lebih menikmati apa yang bisa dinikmati
Tanpa harus khawatir
Tanpa harus takut
Dan tanpa harus merasa cemas

Tenanglah diriku, aku akan selalu membersamai bagaimana pun keadaannya

Ceritaku

Tentang Hal yang Aku Rasakan

Aku bingung, aku tak tahu harus bagaimana menceritakannya. Ingin rasanya aku ceritakan pada seseorang yang dapat mengerti keadaan diriku sepenuhnya. Semua yang hal yang aku rasakan tanpa ada yang terlewati, tanpa ada yang harus ku tutup rapat tatkala aku tak ingin lagi merasakannya. Sesungguhnya, aku lelah. Aku lelah dengan diriku sendiri. Aku lelah dengan semua hal yang tak dapat aku mengerti. Tentang segalanya, segala hal yang juga ku alami.

Mungkin orang-orang yang berinteraksi dengan ku menganggap, aku ini manusia lucu yang menyenangkan. Manusia riang yang suka bercanda. Tapi, tak ada yang akan tahu bagaimana aku sesungguhnya, ada hal yang ku simpan dengan rapat dan meledak saat aku sedang sendiri lagi.

Beberapa hari ini, entah sejak pekan kapan. Aku sering menangis tanpa sebab. Aku menjadi lebih sensitif terhadap hal-hal yang tak ingin ku bahas. Padahal, mau bagaimana pun akan tetap dibahas sampai aku eksekusi menyelesaikannya. Ku ucapkan beribu terima kasih pada mu yang telah dengan sabar peduli dan menasihatiku untuk aku menyelesaikan apa yang telah aku ambil. Menjadi panutanku untuk bisa menyelesaikannya walau entah pada akhirnya aku akan meneruskannya lagi atau tidak.

Semesta, terima kasih telah mempertemukan ku dengannya. Terima kasih atas hal baik yang Kau berikan padaku. Terima kasih telah memenuhi apa yang aku butuhkan.

Aku tahu, aku anak sulung yang ditakdirkan untuk menjadi seorang kakak tanpa kakak. Aku tahu, aku harus bisa lebih mandiri agar bisa menjadi panutan untuk si bungsu. Tapi, ku mohon, kali ini untuk mengerti aku. Aku sedang sensitif untuk hal-hal yang telah aku ambil. Aku akan bertanggung jawab tentang akademik ku. Aku juga ingin menyelesaikannya sesegera mungkin. Walau aku juga harus berjuang terhadap diriku sendiri. Berjuang untuk tetap menyelaraskan semuanya. Aku sedang memperjuangkan semuanya. Semesta, kuatkan aku.

 

Ceritaku

Kematian Impian

Orang-orang mungkin akan memimpikan sesuatu yang lazim untuk diwujudkan. Rumah impian, pernikahan impian, dan sejenisnya. Tapi untuk kali ini, aku mau menuliskan tentang kematian impian ku. Walaupun mungkin ini seperti sesuatu yang tidak seharusnya untuk dituliskan. Aku sudah lama ingin menuliskannya, kematian impian ku.

Kematian impian ku, saat tiba pada masanya aku harus kembali di mana aku dimulakan, aku ingin dalam keadaan wajar. Wajar bagi sebagian banyak orang. Kematian yang menjemput tatkala seperti kebanyakan orang, bisa karena sakit atau sejenisnya. Aku ingin, saat kematian menjemputku, aku berada di dalam tidur ku dengan mimpi indah didekapan orang yang bisa menerima semua kekurangan ku. Aku ingin dia yang menemaniku saat kematian ku datang. Itu pun kalau aku yang lebih dulu dijemput kematian. Kalaupun enggak, aku akan menyambutnya dengan hal yang sama tanpa siapapun. Menyambutnya dengan tenang walau ku tahu, banyak dosa yang telah ku perbuat. Aku hanya mengharapkan demikian. Semoga Semesta mengampuni perbuatan ku.

Ceritaku, Prosa

Mengertilah Kamu, Diriku

Aku ingin berbicara padamu, diriku. Dengarkan aku berbicara. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa kau hanya perlu ingat wahai diriku, kita datang sendiri dan pulang juga sendiri. Jangan terlalu banyak kau curahkan perasaan mu pada siapa pun, atau bahkan apa pun itu. Suatu saat kita akan pulang sendiri. Tanpa siapa pun dan tanpa apa pun. Mereka hanya dapat menghantarkan kita hingga depan pintu kamar kita. Tempat peristirahatan terakhir kita dan hanya tersambung dalam memori kenangan terdalam.

Kita di sini hanya perlu membuat kenangan itu menjadi sesuatu yang mungkin tidak terlalu buruk bagi orang lain. Walaupun mungkin akan ada rasa di mana tidak ingin kita rasakan. Itu konsekuensi nya. Kau pasti tahu itu. Aku di sini bersama dengan dirimu. Kau pun tahu kan, kita satu kesatuan dalam sebuah fatamorgana yang tercipta menjadi sesuatu yang nampak. Kita hadapi semuanya bersama-sama yaa… Aku dan kau, bersama-sama menghadapi semuanya. Aku tak akan meninggalkan mu sendiri ataupun membiarkan mu sendiri merasakan semuanya. Aku ada untuk mu. Hadirkan aku dalam benak mu. Hadirkan aku dalam perasaan mu. Hadirkan aku kapan pun kamu mau. Aku akan selalu bersama mu. Untuk apapun itu. Ku harap, kamu mengerti wahai diriku….

Ceritaku, Prosa

Sakitku, Bahagiaku

Mungkin bagi sebagian banyak orang, rasa sakit adalah suatu perasaan yang akan menimbulkan kesedihan. Namun tidak bagiku. Kesakitan yang aku rasakan bagian lain dari rasa bahagia ku dari sisi bahagia ku yang lain saat ku tunjukkan pada orang lain. Menyedihkan, memang. Tapi dengan rasa sakit yang ada pada diriku, aku merasakan bahagia tersembunyi dari apa pun.

Aku bahagia, sungguh. Aku bahagia bersama dengan rasa sakit yang ada pada tubuh ku. Aku menikmatinya. Dia yang mengerti bagaimana segala rasa dapat ku rasakan dengan rasa yang sesungguhnya. Aku tenang. Aku tenang dalam rasa sakit ku. Meski derai air mata menetes di pipi ku, aku sungguh bahagia menikmatinya. Memberikan ku ketenangan tersendiri dari apa pun.

Aku merasakannya seperti candu. Candu yang membuatku rindu ketika rasa sakit itu pergi. Pelampiasan rasa yang tak tahu aku harus bagaimana mengungkapkannya. Yang pergi meninggalkan ku sendiri untuk menikmati bagian rasa yang lain. Rasa sakit ini, menjadi bagian dari bahagiaku. Sakit penyakit yang datang menemaniku. Terima kasih maag, terima kasih radang tenggorokan, terima kasih demam, terima kasih ku ucapkan pada kalian semuanya. Tetap di sini bersamaku. Sesekali datanglah menyapaku. Menyapa kesendirian ku, menyapa sunyi ku, dan menyapa perasaan ku.